SMK Airlangga Balikpapan

Jl. Letjend. S.Parman No.14 Gn.Guntur Balikpapan Tengah 76122

Learning Community Center

Selamat Hari Peringatan Masyarakat Adat Bagi Seluruh Masyarakat Adat di Indonesia

Rabu, 13 Maret 2019 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 28 Kali

Tanggal 13 Maret menjadi hari peringatan masyarakat adat. Indonesia yang merupakan negara kepulauan juga memiliki banyak budaya dan adat yang tersebar di masing-masing daerahnya. Salah satunya adalah masyarakat adat Dayak yang ada di Kalimantan.

Suku Dayak Sendiri Mempunyai Kebudayaan Yang Beragam. Secara Bahasa, Dayak Sebetulnya Bukanlah Nama Sebuah Suku. Yang Disebut “Orang Dayak” Dalam Bahasa Kalimantan Secara Umum Artinya Adalah “Orang Pedalaman” Yang Jauh Dari Kehidupan Kota.

Dan ‘Orang Dayak’ Itu Tadi Bukan Dikhususkan Untuk Sebuah Suku Saja, Akan Tetapi Terdapat Bermacam-Macam Suku. Contohnya, Dayak Kenyah, Dayak Hiban, Dayak Tunjung, Dayak Bahau, Dayak Benua, Dayak Punan Serta Masih Terdapat Puluhan Uma (Anak Suku) Yang Tersebar Di Berbagai Hutan Di Wilayah Kalimantan. Sebelum Abad 20, Secara Keseluruhan Suku Dayak Belum Mengenal Agama ‘Samawi’, Baik Itu Islam Maupun Yang Lainnya. Yang Menjadi Kepercayaan Mereka Hanyalah Kepada Leluhur, Binatang-Binatang, Batu-Batuan, Serta Isyarat Alam Yang Mereka Tafsirkan Mirip Seperti Agama Hindu Kuno. Dalam Kehidupan Sehari-Harinya, Mereka Mempercayai Macam-Macam Pantangan Sesuai Dengan ‘Tanda’ Dari Alam.

Mereka Mempunyai Pantangan Untuk Berbaur Dengan Kehidupan Masyarakat Dari Suku Lain. Sehingga Mereka Selalu Hidup Dengan Dihantui Rasa Ketidaktenangan Yang Membuat Mereka Selalu Berpindah-Pindah, Dari Hutan Satu Ke Hutan Yang Lainnya. Dari Goa Satu Ke Goa Yang Lainnya Dan Seterusnya.

Diantara Suku Dayak Yang Paling ‘Eksklusif’ Bahkan Bisa Dibilang Sangat Primitif Adalah Suku Dayak Punan. Suku Yang Satu Ini Bahkan Sulit Berkomunikasi Dengan Masyarakat Umum. Kebanyakan Dari Mereka Tinggal Di Hutan Yang Lebat Atau Di Dalam Goa. Sebetulnya, Ini Juga Bukan Murni ‘Kesalahan’ Mereka. Mereka Hanya Mengikuti Pantangan Dari ‘Leluhur’ Yang Mereka Takut Jika Melanggar Pantangan Tersebut, Akan Terjadi Sesuatu Yang Tidak Diinginkan.

Pakaian Adat Untuk Wanita Dinamakan Ta’a Dan Untuk Para Lelakinya Bernama Sapei Sapaq. Biasanya Pakaian Adat Tersebut Digunakan Saat Acara Besar Dan Menyambut Tamu Agung. Ta’a Terdiri Dari Da’a Yaitu Semacam Ikat Kepala Yang Terbuat Dari Pandan Yang Umumnya Digunakan Oleh Orang Tua. Atasan Atu Baju Yang Mereka Kenakan Disebut Sapei Inoq Dan Bawahannya Berupa Rok Yang Disebut Dengan Ta’a. Baik Atasan Maupun Bawahan Semua Dihiasi Dengan Manik-Manik Agar Terlihat Cantik.

Wanita Yang Memakai Ta’a Ini Biasanya Dilengkapi Dengan Uleng Atau Hiasan Kalung Manik Sampai Bawah Dada. Sedangkan Untuk Para Lelaki Masyarakat Dayak Mengenakan Pakaian Yang Disebut Dengan Sapei Sadaq Dengan Corak Dan Motif Yang Hampir Sama Dengan Pakaian Adat Perempuan Dayak. Namun, Pada Sapei Sapaq Atasan Dibuat Rompi Dan Bawahannya Adalah Cawat Yang Disebut Abet Kaoq. Umunya , Para Pria Dayak Melengkapi Penampilan Mereka Dengan Mandau Ayng Terikat Pada Pinggang Mereka. Pada Umumnya , Tidak Ada Perbedaan Mencolok Dari Motif Antara Lelaki Dan Perempuan Maupun Si Bangsawan Dan Si Rakyat Biasa, Hanya Saja Di Beberapa Daerah Yang Masih Mengenal Kasta Jika Anda Memakai Pakaian Adat Yang Bercorak Enggang Atau Harimau Berarti Yang Memakainya Adalah Keturunan Bangsawan.

Jika Anda Memakai Motif Tumbuhan Berarti Anda Adalah Orang Biasa. Pada Umumnya , Pakaian Adat Suku Dayak Kebanyakan Mengambil Motif Kehidupan Binatang Dan Alam Namun Yang Paling Banyak Tetap Saja Kehidupan Amrga Satwa Terutama Burung. Demikian Pula Dengan Tari-Tariannya Yang Sering Menggambarkan Kehidupan Burung Dengan Bulu Cantik Yang Sedang Melakukan Gerakan Terbang.

Rumah Betang Atau Rumah Panjang Adalah Rumah Adat Khas Kalimantan Yang Terdapat Di Berbagai Penjuru Kalimantan, Terutama Di Daerah Hulu Sungai Yang Biasanya Menjadi Pusat Pemukiman Sku Dayak. Bentuk Dan Besar Rumah Betang Ini Bervariasi Di Berbagai Tempat. Ada Rumah Betang Yang Mencapai Panjang 150 Meter Dan Lebar Hingga 30 Meter. Umumnya Rumah Betang Dibangun Dalam Bentuk Panggung Dengan Ketinggian Tiga Hingga Lima Meter Dari Tanah. Tingginya Bangunan Rumah Betang Ini Untuk Menghindari Datangnya Banjir Pada Musim Penghujan Yang Mengancam Daerah-Daerah Di Hulu Sungai Di Kalimantan. Beberapa Unit Pemukiman Bisa Memiliki Rumah Betang Lebih Dari Satu Buah Tergantung Dari Besarnya Rumah Tangga Anggota Komunitas Hunian Tersebut. Setiap Rumah Tangga (Keluarga) Menempati Bilik (Ruangan) Yang Di Sekat-Sekat Dari Rumah Betang Yang Besar Tersebut.

(Sumber : www.mitrapost.com dan www.gurupendidikan.co.id)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Saeful, S.Pd

Assalamualaikum Wr.Wb Alhamdulillah segala Pujian dan  syukur selalu  kita  panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena Berkat dan Rahmat Nya,…

Selengkapnya

JAJAK PENDAPAT

Apakah menurut anda tampilan website ini sudah menarik ?

LIHAT HASIL